Sabtu, 21 November 2009

Komposisi (Susunan) Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Komposisi (susunan) penduduk berdasarkan pendidikan
adalah susunan penduduk (pengelompokkan penduduk) didasarkan
pada jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Jenjang pendidikan
menurut Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003 sistem
pendidikan nasional terdiri atas pendidikan dasar (SD/MI, SMP/
MTs), pendidikan menengah (SMA/MA), pendidikan tinggi (sekolah
tinggi, universitas)
a. Jenjang pendidikan dasar
Jenjang pendidikan dasar meliputi SD atau MI dan SMP atau
MTs atau bentuk-bentuk jenjang sekolah yang sederajat lainnya.
Pendidikan SD dan MI bertujuan memberi bekal kemampuan
dasar untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP atau MTs.
Adapun pendidikan SMP atau MTs bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, siswa agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi serta memiliki hubungan interaksi dengan
lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar.
b. Jenjang pendidikan menengah
Jenjang pendidikan menengah meliputi SMA, MA, SMK, atau
sekolah yang sederajat lainnya. Pendidikan menengah bertujuan
memberikan pengajaran yang bersifat teoritis dan praktis serta
mengutamakan perluasan wawasan ilmu pengetahuan dan peningkatan
keterampilan siswa agar dapat mengembangkan potensi diri
atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau langsung bekerja.
c. Pendidikan tinggi
Jenjang pendidikan tinggi meliputi program diploma, sarjana,
magister, spesialis, dan doktor. Adapun bentuk pendidikan/perguruan
tinggi antara lain akademi, sekolah tinggi, universitas, dan
institut.
Pendidikan di perguruan tinggi terbagi menjadi:
1) Pendidikan akademik, yang diarahkan pada penguasaan,
pengembangan, peningkatan mutu, serta perluasan wawasan
ilmu pengetahuan.
Sumber: Ensiklopedi Umum
untuk Pelajar, 2005
Gambar 2.4 Jumlah
penduduk Indonesia yang
memiliki jenjang pendidikan
SD berdasarkan hasil
penelitian BPS tahun 2000
adalah 27,5% di kota) dan
36,2 (di desa).

2) Pendidikan profesional, yang diarahkan pada penerapan
keahlian tertentu dan mengutamakan peningkatan kemampuan
penerapan ilmu pengetahuan.
Tabel: Komposisi penduduk desa dan kota berdasarkan jenjang
pendidikannya.

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2000
1. Tidak sekolah 5,3 13,0
2. Belum tamat SD 16,9 30
3. SD 27,5 36,2
4. SMP 19,2 12,3
5. SMP+ 50,4 21,0
6. Sekolah menengah 52,2 7,7
7. Diploma I/II 0,9 0,4
8. Diploma III/sarjana muda 1,6 0,2
9. Diploma IV/S1/S2/S3 3,4 0,4

KOMPOSISI (SUSUNAN) PENDUDUK

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk atas
dasar kriteria tertentu dan untuk tujuan tertentu pula. Misalnya
pengelompokan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin,
tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Mengetahui komposisi penduduk
diperlukan untuk merencanakan kegiatan pada masa mendatang.
Adapun komposisi penduduk suatu negara diklasifikasikan menurut:
1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis
Kelamin
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat
dibentuk piramida penduduk, yaitu grafik balok yang dibuat secara
horizontal untuk membandingkan penduduk laki-laki dan perempuan.
Macam-macam bentuk piramida penduduk:
a. Piramida penduduk muda (Expansive)
Bentuk piramida penduduk muda bagian atasnya besar, makin
ke puncak makin sempit, sehingga berbentuk limas. Hal itu
menggambarkan bahwa penduduk dalam keadaan tumbuh, jumlah
kelahiran lebih besar daripada jumlah kematian.
b. Piramida penduduk tetap (Stationer)
Bentuk piramida ini di bagian atas dan bawahnya hampir
sama, sehingga berbentuk seperti granat. Hal itu menggambarkan
bahwa angka kelahiran seimbang dengan angka kematian. Jumlah
penduduk usia muda hampir sama dengan usia dewasa.
c. Piramida penduduk tua (Constrictive)
Bentuk piramida ini di bagian bawah kecil dan di bagian atas
besar, sehingga berbentuk seperti batu nisan. Hal itu menggambarkan
penurunan angka kelahiran lebih pesat dari angka kematian,
sehingga jumlah penduduk usia muda lebih sedikit dibandingkan
dengan usia dewasa. Jumlah penduduk mengalami penurunan.
Data tentang komposisi penduduk menurut umur dan jenis
kelamin dapat dipergunakan untuk:
a. Angka beban ketergantungan (dependency ratio)
Angka beban ketergantungan adalah angka yang menyatakan
perbandingan antara banyaknya orang yang termasuk usia tidak
produktif dengan banyaknya orang yang termasuk usia produktif.
Orang yang termasuk golongan usia tidak produktif adalah:
1) antara usia 0 sampai 14 tahun,
2) usia 65 tahun ke atas.
Adapun yang termasuk usia produktif adalah usia antara 15
sampai 64 tahun.
Rumus untuk menghitung angka beban ketergantungan adalah:
Jumlah penduduk usia nonproduktif:
Jumlah penduduk usia nonproduktif 100
Jumlah penduduk usia produktif
��
Besar kecilnya angka beban ketergantungan memengaruhi
tingkat kesejahteraan penduduk. Makin tinggi angka beban
ketergantungannya, maka makin rendah tingkat kesejahteraan
penduduk, dan sebaliknya.
b. Angka usia harapan hidup (life expectancy)
Angka usia harapan hidup adalah rata-rata usia penduduk
yang diperhitungkan sejak kelahiran.Usia harapan hidup berkaitan
erat dengan angka kematian bayi. Makin tinggi angka kematian
bayi, makin rendah usia harapan hidup, dan sebaliknya. Angka
usia harapan hidup sangat terkait dengan tingkat kesehatan
masyarakat.
c. Rasio jenis kelamin (sex ratio)
Rasio jenis kelamin (sex ratio) adalah perbandingan
banyaknya penduduk laki-laki dan banyaknya penduduk perempuan
pada suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.
Rumus menghitung rasio jenis kelamin adalah

Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk adalah perbandingan jumlah penduduk
dengan luas lahan.
Macam-macam kepadatan penduduk antara lain:
a. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara
jumlah penduduk dengan luas tanah yang dapat diolah.
b. Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara
jumlah penduduk dengan luas wilayah tetapi menurut kapasitas
produksinya.
c. Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan jumlah
penduduk dengan luas seluruh wilayah dalam setiap km2.
Rumus:
Kepadatan Penduduk Aritmatika:
2
Jumlah penduduk (jiwa)
Luas seluruh wialyah (km )
d. Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara
penduduk yang mempunyai aktivitas di sektor pertanian dengan
luas tanah (daerah) yang dapat diolah untuk pertanian.
Rumus
Kepadatan Penduduk Agraris:
2
Jumlah penduduk yang bertani (jiwa)
Luas seluruh lahan pertanian (km )

Migrasi atau Perpindahan Penduduk

Pernahkah kamu memerhatikan fenomena yang terjadi di
Indonesia atau bahkan di sekitarmu sendiri saat menjelang lebaran?
Ya, di Indonesia akan kita jumpai fenomena “Mudik Lebaran”. Di
mana banyak orang yang meninggalkan kota-kota besar untuk
pulang ke kampung halamannya. Mereka meninggalkan
pekerjaannya sejenak di kota besar dan rela melakukan perjalanan
jauh yang menghabiskan banyak biaya guna merayakan lebaran di
kampung halaman bersama keluarganya. Setelah lebaran selesai,
mereka pun akan kembali ke kota di mana dia bekerja (arus balik).
Lalu apa kaitan antara fenomena mudik dengan materi perpindahan
penduduk? Ya, mudik adalah contoh dari migrasi atau perpindahan
penduduk. Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian materi berikut.
Migrasi atau mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk
dari suatu tempat ke tempat lain.

Adapun pola mobilitas penduduk meliputi:
a. Mobilitas penduduk permanen (migrasi), yang meliputi:
1) Migrasi internasional (migrasi antarnegara) yang
terdiri dari imigrasi, emigrasi, dan remigrasi.
a) Imigrasi adalah masuknya penduduk asing yang
menetap ke dalam sebuah negara.
b) Emigrasi adalah pindahnya penduduk keluar negeri
untuk menetap di sana.
c) Remigrasi adalah pemulangan kembali penduduk asing
ke negara asalnya.
2) Migrasi nasional (migrasi lokal), terdiri dari:
a) Urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke
kota.
b) Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari pulau
yang padat penduduknya ke pulau yang masih jarang
penduduknya.
c) Ruralisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke
desa untuk menetap di desa.
d) Evakuasi, yaitu perpindahan penduduk untuk
menghindari bahaya.
b. Mobilitas penduduk nonpermanen (sirkuler), yang meliputi:
1) Mobilitas ulang alik atau mobiltas harian, yakni
penduduk yang karena pekerjaannya harus melakukan
perjalanan dari tempat tinggalnya ke tempat bekerjanya di
lain daerah.
2) Mobilitas bermusim, yakni penduduk yang karena
pekerjaan atau keperluannya untuk sementara waktu
menetap di suatu daerah dan dalam jangka waktu tertentu
kembali ke tempat tinggalnya.

KUANTITAS PENDUDUK INDONESIA

Penduduk Indonesia tersebar di berbagai provinsi yang ada
di Indonesia. Jumlah penduduk setiap provinsi berbeda-beda. Bila
kita jumlahkan secara keseluruhan itulah yang disebut dengan
“kuantitas penduduk Indonesia”.
1. Pengertian Penduduk Indonesia
Jika kalian mengunjungi kota-kota besar di Indonesia terutama
di pusat-pusat perdagangan, kalian akan menjumpai berbagai ragam
orang dengan berbagai ras, maupun suku bangsa. Apakah semua
termasuk penduduk Indonesia? Tentu saja tidak, sebab kemungkinan
mereka adalah para wisatawan mancanegara atau orangorang
asing yang sedang berkunjung ke Indonesia. Lalu siapakah
yang dikategorikan sebagai penduduk Indonesia itu?
Penduduk Indonesia adalah mereka yang tinggal di Indonesia
pada saat dilakukan sensus dalam kurun waktu minimal 6 bulan.
2. Sumber Data Penduduk
Untuk mengetahui bagaimanakah keadaan penduduk
berkaitan dengan kuantitas penduduk di suatu negara diperlukan
data yang lengkap dengan melakukan:
a. Sensus penduduk (cacah jiwa), yaitu pencatatan penduduk
di suatu daerah/negara pada kurun waktu tertentu. Sensus penduduk
biasanya dilakukan tiap 10 tahun sekali (setiap dekade).
b. Survei penduduk, yaitu pencatatan penduduk di daerah yang
terbatas dan mengenai hal tertentu.
c. Registrasi penduduk, yaitu pencatatan data penduduk yang
dilakukan secara terus-menerus di kelurahan. Misal: pencatatan
peristiwa kelahiran, kematian, dan kejadian penting yang
mengubah status sipil seseorang sejak lahir sampai mati.
3. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu pertumbuhan penduduk alami, pertumbuhan penduduk migrasi,
dan pertumbuhan penduduk total.
a. Pertumbuhan penduduk alami (Natural Population Increase),
adalah pertumbuhan penduduk yang diperoleh dari
selisih jumlah kelahiran dengan jumlah kematian.
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:
T = L – M
Serasi
(Serba-serbi Sosial)
Sensus di Indonesia
pertama kali dilaksanakan
pada masa pemerintahan
Thomas
Stanford Raffles pada
tahun 1815. Kemudian
sensus pertama setelah
Indonesia merdeka
dilaksanakan pada
31 Oktober 1961 dan
diperingati sebagai hari
sensus Indonesia.
Keterangan
T = jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
L = jumlah kelahiran per tahun
M = jumlah kematian per tahun
b. Pertumbuhan penduduk migrasi adalah pertumbuhan
penduduk yang diperoleh dari selisih jumlah migrasi masuk
(imigrasi) dan jumlah migrasi keluar (emigrasi).
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:
T = I – E
Keterangan
T = jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
I = jumlah migrasi masuk per tahun
E = jumlah migrasi keluar per tahun
c. Pertumbuhan penduduk total (Total Population Growth)
adalah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah
kelahiran dengan jumlah kematian ditambah dengan selisih
jumlah imigrasi dengan jumlah emigrasi.
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:
T = (L – M) + ( I – E)
Keterangan:
T = Pertumbuhan penduduk per tahun
L = Jumlah kelahiran per tahun
M = Jumlah kematian per tahun
I = Jumlah imigran (penduduk yang masuk ke suatu
negara/wilayah untuk menetap) per tahun
E = Jumlah emigran (penduduk yang meninggalkan/
pindah ke wilayah/negara lain) per tahun

Keanekaragaman Suku Bangsa

Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri atas beberapa
suku bangsa (etnis) yang masing-masing memiliki bahasa dan adat
istiadat serta budaya yang berbeda. Menurut hasil penelitian Hilderd
Geertz, Indonesia terdiri dari 300 etnis yang berbeda-beda. Adapun
menurut penelitian MA Jaspan, masyarakat Indonesia terdiri atas
366 etnis dengan kriteria pada bahasa daerah, kebudayaan serta
susunan masyarakatnya. Lain lagi menurut penelitian Van
Vollenhoven yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia
terbagi menjadi 19 lingkaran hukum adat dengan berbagai suku
bangsa (etnis) yang ada di dalamnya.
Lalu apakah yang dimaksud etnik itu? Apa pula bedanya
dengan ras?
Robertson pada tahun 1977 mengemukakan pendapatnya
bahwa kelompok etnik adalah sejumlah besar orang yang memandang
diri dan dipandang oleh kelompok lain memiliki kesatuan
budaya yang berbeda. Hal ini terjadi sebagai akibat dari sifat-sifat
budaya bersama dan interaksi timbal balik yang terus menerus.
Jika istilah ras berkaitan dengan ciri-ciri fisik tubuh, etnisitas
lebih berkaitan dengan karakteristik budaya suatu kelompok tertentu.
Karakterisrik budaya ini dibentuk dan dihasilkan oleh perbedaan
bahasa, agama, suku bangsa, kedaerahan, dan tempat lahir.
Hal yang membedakan antara etnis yang satu dengan yang
lainnya adalah perbedaan bahasa (bahasa daerah) dan adat istiadat.
Perbedaan adat istiadat menunjukkan perbedaan kebudayaan yang
nampak dari pola perilaku atau gaya hidup. Pola perilaku orang
Batak yang suka bicara terus terang, sehingga terkesan tegas dan
keras sangat berbeda dengan pola perilaku orang Jawa Tengah
(khususnya Solo dan Jogja) yang suka berbicara hati-hati penuh
dengan sindiran secara halus sehingga berkesan kurang tegas.
Secara rinci dapat kita uraikan tentang perbedaan antara etnis
yang satu dan lainya, dalam hal:
a. Perbedaan bahasa daerah.
b. Perbedaan tata susunan kekerabatan, misalnya ada yang
menganut patrilineal, matriliniel, dan parental.
c. Perbedaan adat istiadat, misalnya dalam upacara perkawinan,
upacara adat, hukum adat, dan lain-lain.
d. Perbedaan sistem mata pencaharian.
e. Perbedaan teknologi, misalnya bentuk arsitektur rumah/
bangunan adat, peralatan kerja tradisional.
f. Perbedaan kesenian daerah.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
bahasa dan adat istiadat adalah:
a. Keadaan dan letak geografis yang berbeda.
b. Pemukiman penduduk yang terpisah-pisah di pulau-pulau
terpencil yang menghambat kontak dengan daerah lain.
c. Latar belakang sejarah yang berbeda.
d. Lingkaran hukum adat dan kemasyarakatan yang berlainan.

KONDISI PENDUDUK INDONESIA

Indonesia merupakan negara kesatuan yang masyarakatnya
majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang menyebar
dari Sabang (ujung Sumatra Utara) sampai Merauke (ujung Papua).
1. Pembagian Ras Penduduk Indonesia
Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, masyarakat Indonesia dapat
dibedakan menjadi 4 (empat) kelompok ras, yaitu:
a. Kelompok ras Papua Melanezoid, terdapat di Papua/
Irian, Pulau Aru, Pulau Kai.
b. Kelompok ras Negroid, antara lain orang Semang di
semenanjung Malaka, orang Mikopsi di Kepulauan
Andaman.
c. Kelompok ras Weddoid, antara lain orang Sakai di Siak
Riau, orang Kubu di Sumatra Selatan dan Jambi, orang
Tomuna di Pulau Muna, orang Enggano di Pulau Enggano,
dan orang Mentawai di Kepulauan Mentawai.
d. Kelompok ras Melayu Mongoloid, yang dibedakan
menjadi 2(dua) golongan.
1) Ras Proto Melayu (Melayu Tua) antara lain Suku
Batak, Suku Toraja, Suku Dayak.
2) Ras Deutro Melayu (Melayu Muda) antara lain Suku
Bugis, Madura, Jawa, Bali.
Di samping kelompok ras di atas, masyarakat Indonesia juga
terdiri dari kelompok warga keturunan Cina (ras Mongoloid),
warga keturunan Arab, Pakistan, India, ras Kaukasoid, dan
sebagainya yang hidup berdampingan membaur menjadi satu warga
negara Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak mengenal
superioritas suatu ras dan tidak menganut paham rasialisme.
Salah satu perekat suku bangsa yang berbeda-beda di Indonesia
adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang
termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

PERSEBARAN JENIS TANAH DAN PEMANFAATANNYA DI INDONESIA

Perbedaan kondisi tanah disebabkan karena susunan mineral
di dalamnya yang berbeda-beda. Karena tanah berasal dari
hasil pelapukan batuan induk (anorganik) yang terbentuk dari bahanbahan
organik tumbuhan dan hewan yang telah membusuk.
1. Berbagai Jenis Tanah di Indonesia
Jenis-jenis tanah di Indonesia antara lain:
a. Tanah gambut adalah tanah yang berasal dari bahan
organik yang selalu tergenang air (rawa) dan kekurangan
unsur hara, sirkulasi udara tidak lancar, proses penghancuran
tidak sempurna, kurang baik untuk pertanian. Banyak
terdapat di Kalimantan, Sumatra Timur, dan Papua.
b. Tanah mergel adalah tanah campuran dari batuan kapur,
pasir, dan tanah liat yang dikarenakan hujan yang tidak
merata. Banyak terdapat di lereng pegunungan dan dataran
rendah seperti di Solo, Madiun, Kediri, dan Nusa Tenggara.
c. Tanah kapur (renzina) adalah tanah yang terbentuk dari
bahan induk kapur yang mengalami laterisasi lemah.
Banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra.
d. Tanah endapan atau tanah aluvial adalah tanah yang
terbentuk karena pengendapan batuan induk dan telah
mengalami proses pelarutan air. Jenis tanah ini merupakan
tanah subur dan banyak terdapat di Jawa bagian utara,
Sumatra bagian timur, Kalimantan bagian barat dan selatan.
e. Tanah terrarosa adalah tanah hasil pelapukan batuan
kapur. Jenis tanah ini banyak terdapat di daerah dolina dan
merupakan daerah pertanian yang subur. Daerah
persebarannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Sumatra.
f. Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan tumbuhan
(bahan organik), berwarna hitam, sangat subur, cocok untuk
pertanian. Banyak terdapat di Kalimantan, Sumatra,
Sulawesi, dan Papua.
g. Tanah vulkanis adalah tanah hasil pelapukan bahan padat
dan bahan cair yang dikeluarkan gunung berapi. Jenis tanah
ini sangat subur dan cocok untuk pertanian. Jenis tanah ini
banyak terdapat di daerah Jawa, Sumatra, Bali, Lombok,
Halmahera, dan Sulawesi.
h. Tanah padzol adalah tanah yang terjadi karena temperatur
dan curah hujan yang tinggi, sifatnya mudah basah, dan
subur jika terkena air. Jenis tanah ini berwarna kuning
keabu-abuan dan cocok untuk perkebunan. Banyak
terdapat di pegunungan tinggi.
i. Tanah laterit adalah tanah yang terbentuk karena
temperatur dan curah hujan yang tinggi. Namun jenis tanah
ini kurang subur dan banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa
Barat, dan Kalimantan Barat.
j. Tanah pasir adalah tanah hasil pelapukan batuan beku
dan sedimen dan tidak berstruktur. Jenis tanah ini kurang
baik untuk pertanian karena sedikit mengandung bahan
organik. Banyak terdapat di pantai barat Sumatra Barat,
Jawa Timur, dan Sulawesi.

Jenis Fauna yang Dilindungi dan Upaya Pelestariannya

Banyaknya jenis satwa yang menjadi korban perburuan
manusia mengakibatkan jumlah populasi hewan tertentu mengalami
penurunan secara drastis, sehingga keberadaannya mulai terancam
kepunahan. Berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar
Nomor 134 dan 266 tahun 1931, hewan yang dilindungi antara lain
badak, tapir, kambing hutan, trenggiling, kancil, burung dara laut,
babi rusa, elang tikus atau alap-alap.
Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 421 Tahun 1970
dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 327 Tahun 1972, hewan
yang dilindungi adalah harimau sumatra, harimau jawa, macan
kumbang, jalak bali, burung gosong, burung maleo, monyet hitam,
kakatua, rusa bawean, kanguru pohon, beo nias, ikan pesut, lumbalumba,
musang.
Untuk melindungi hewan tersebut didirikan cagar alam dan
suaka margasatwa, antara lain:
a. Di Pulau Jawa
Cagar alam di Pulau Jawa, antara lain:
1) Cagar alam Ujung Kulon melindungi badak, banteng,
merak, rusa, dan buaya.
2) Cagar alam Cibodas, Cianjur, sebagai cadangan air karena
wilayah tersebut curah hujannya sangat tinggi.
3) Suaka margasatwa Baluran dan Meru Betiri, Banyuwangi,
Jawa Timur melindungi banteng, kerbau liar, harimau jawa,
dan rusa.
4) Cagar alam Pangandaran, melindungi banteng.
5) Cagar alam Gunung Gede, Bogor, melindungi kijang dan
rusa.
6) Cagar alam Pulau Dua, melindungi burung laut.
b. Di Pulau Sumatra
1) Suaka margasatwa Gunung Leuser, Aceh Utara, melindungi
orang utan, badak, gajah, dan harimau Sumatra.
2) Suaka Margasatwa Pulau Siberut, Way Kambas, dan
Gunung Sakinco, melindungi harimau, tapir, beruang, rusa,
badak, gajah sumatra.
3) Cagar alam Limbo Pati, Sumatra Barat, melindungi tapir
dan siamang.
c. Di Pulau Kalimantan
Cagar alam dan suaka margastwa Tanjung Putting dan Kutai
untuk melindungi orang utan, banteng, rusa sambar.
d. Di Pulau Nusa Tenggara
Suaka margasatwa di Pulau Komodo dan Pulau Rinca,
melindungi komodo, kerbau liar, dan kuda liar.
e. Di Pulau Sulawesi
Suaka margasatwa Dumoga Bone dan Gunung Tangkoko di
ujung utara Minahasa melindungi anoa, babi rusa, dan kuskus.
f. Di Maluku
Suaka margasatwa Wae Nua, melindungi burung kasuari.
Suaka margasatwa Pulau Baun di Kepulauan Aru untuk
melindungi burung cenderawasih.

Persebaran Fauna di Indonesia

Secara umum persebaran fauna di Indonesia dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu:
a. Kelompok fauna Asiatis (kelompok barat), adalah hewan
yang berada di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali.
Wilayah itu dulu dikenal sebagai Paparan Sunda, yang
merupakan bagian dari Benua Asia. Adapun jenis-jenis
hewannya antara lain badak, gajah, rusa, tapir, banteng,
b. Kelompok fauna Australis Asiatis (kelompok tengah),
merupakan campuran fauna Asia dan Austalia, meliputi jenis
hewan yang berada di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, dan
Maluku. Wilayah kelompok tengah dan timur dipisahkan oleh
Garis Weber. Contoh jenis fauna ini antara lain anoa, babi
rusa, komodo, burung maleo, tarsius, dan lain-lain.
c. Kelompok fauna Australis (kelompok timur), merupakan
kelompok hewan yang berada di Paparan Sahul, meliputi
wilayah Papua dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Contoh fauna
di wilayah ini antara lain kanguru, walabi, koala, burung cenderawasih,
kakatua, kasuari, dan jenis burung berwarna lainny

Manfaat hutan

Keberadaan hutan menjadi potensi sumber daya alam
yang menguntungkan bagi devisa negara. Di samping itu hutan
memiliki aneka fungsi yang berdampak positif terhadap
kelangsungan kehidupan manusia.
1) Manfaat langsung
Secara langsung hutan menghasilkan berbagai jenis
kayu dan nonkayu yang berperan penting sebagai bahan
produksi.
2) Manfaat tidak langsung
Secara tidak langsung hutan memiliki berbagai fungsi,
antara lain:
a) Fungsi klimatologis, sebagai penyegar atau pembersih
udara.
b) Fungsi orologis, sebagai penyaring atau pembersih
air.
c) Fungsi strategis, sebagai sarana pertahanan dan
perlindungan dalam peperangan.
d) Fungsi estetis, untuk keindahan dan sarana rekreasi.
e) Fungsi hidrologis, berperan menyimpan air hujan

PERSEBARAN FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA

Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan
suburnya berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, daerah tropis
dikenal sebagai kawasan hutan belukar yang bukan saja menyimpan
berbagai potensi kekayaan alam, melainkan juga berperan sebagai
paru-paru dunia.
Keberadaan hutan tropis yang subur merupakan surga bagi
aneka satwa, mulai dari berbagai jenis hewan melata, mamalia,
aneka ragam serangga sampai pada jenis burung.
Faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna:
1. faktor bentang alam atau relief tanah,
2. faktor manusia,
3. faktor iklim, mencakup curah hujan, temperatur udara, angin,
dan kelembapan udara,
4. faktor tanah.
1. Persebaran Flora di Indonesia
Beberapa jenis tumbuhan ada yang bersifat endemik, yaitu
jenis tumbuhan yang hanya terdapat di Indonesia. Tumbuhan di
Indonesia juga menunjukkan gejala cauliflora, yaitu adanya bunga
dan buah pada batang dan dahan, serta tidak pada pucuknya.
Misalnya belimbing, durian, nangka, duku.
Aneka ragam jenis flora (dunia tumbuhan) bisa dijumpai di
dalam hutan. Lalu apakah yang dimaksud dengan hutan itu?
Menurut UU Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967, hutan
adalah suatu lapangan pertumbuhan pepohonan yang secara
keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati, alam
lingkungannya, dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.
a. Jenis hutan berdasarkan iklim digolongkan sebagai berikut.
1) Hutan hujan tropis, dengan ciri-ciri:
a) pohonnya berdaun lebar,
b) daunnya menghijau sepanjang tahun,
c) terdapat tumbuhan epifit, lumut, palem, dan pohon
panjat sejenis rotan.

2) Hutan musim, terdapat di daerah tropis yang memiliki
musim hujan dan kemarau. Ciri-ciri hutan musim adalah:
a) pohonya jarang,
b) ketinggian pohon antara 12 - 35 meter,
c) pada musim kemarau daunnya meranggas dan musim
penghujan bersemi.
3) Hutan sabana atau savana, yaitu padang rumput yang
diselingi pepohonan perdu. Hutan savana atau sabana
banyak terdapat di daerah tropis yang curah hujannya relatif
kurang. Di wilayah Indonesia, padang sabana banyak
dijumpai di daerah Nusa Tenggara.
4) Hutan bakau atau mangrove, merupakan hutan khas di
daerah pantai tropik. Keberadaan hutan bakau sangat
membantu mengamankan pantai dari bahaya abrasi, yakni
pengikisan lapisan tanah oleh gelombang laut. Kerusakan
pantai disebabkan karena menipisnya hutan bakau yang
banyak ditebang manusia.
b. Berdasarkan jenis pohon, hutan diklasifikasikan:
1) Hutan homogen, yakni hutan yang ditumbuhi hanya satu
jenis tumbuhan saja. Misalnya hutan pinus, hutan jati.Hutan
ini dibuat dengan tujuan tertentu, misal untuk penghijauan
atau untuk industri. Hutan hasil reboisasi pada umumnya
termasuk hutan homogen.
2) Hutan heterogen, hutan yang ditumbuhi beranekaragam
jenis tumbuhan. Hutan heterogen disebut juga sebagai hutan
belukar atau hutan perawan. Misalnya hutan tropis.
c. Berdasarkan fungsinya, hutan diklasifikasikan:
1) Hutan lindung, hutan yang berfungsi
a) Sebagai penyaring air ke dalam tanah untuk cadangan
air tanah dan menghambat laju perjalanan air di dalam
tanah. Hal ini disebut fungsi hidrologis.
b) Mencegah banjir.
c) Melindungi tanah dari erosi.
2) Hutan suaka alam, yaitu hutan yang berfungi sebagai
pelindung jenis flora dan fauna tertentu. Hutan ini terdiri
dari suaka margasatwa dan cagar alam. Misalnya cagar
alam Rafflesia Bengkulu untuk melindungi dan menjaga
kelestarian Bunga Rafflesia Arnoldi.
3) Hutan produksi, hutan yang berfungsi untuk diambil
hasilnya sebagai bahan industri. Misalnya hutan jati, hutan
karet, dan lain-lain.

HUBUNGAN LETAK GEOGRAFIS DENGAN PERUBAHAN MUSIM DI INDONESIA

Wilayah Indonesia berada di antara 6o LU – 11o LS dan
merupakan daerah tropis dengan dua musim yakni musim kemarau
dan penghujan yang bergantian setiap enam bulan sekali.Musim
kemarau berlangsung antara bulan April sampai Oktober. Adapun
musim penghujan berlangsung antara bulan Oktober sampai April.
Terjadinya perubahan musim ini disebabkan oleh terjadinya
peredaran semu matahari setiap tahun.
1. Peredaran Semu Matahari Tahunan
Peredaran semu matahari adalah gerakan semu matahari dari
khatulistiwa menuju garis lintang balik utara 23½o LU, kembali ke
khatulistiwa dan bergeser menuju ke garis lintang balik selatan 23
½o LS dan kembali lagi ke khatulistiwa.
Hal tersebut berpengaruh pada letak tempat terbit dan
terbenamnya matahari yang setiap hari tidaklah sama . Setiap hari
akan terjadi pergeseran dari letak terbit/terbenamnya dibandingkan
dengan letak yang kemarin. Pergeseran ini disebabkan karena
proses perputaran bumi mengelilingi matahari (revolusi), sehingga
dapat diketahui bahwa yang berubah adalah posisi bumi terhadap
matahari.
Akibat dari perputaran bumi yang mengelilingi matahari
tersebut, maka mengakibatkan terjadinya pergeseran semu letak
terbit/terbenamnya matahari.
Berikut ini bagan yang menunjukkan pergeseran semu letak
terbit/terbenamnya matahari dalam satu tahun.
2. Terbentuknya Angin Muson
Perubahan letak terbitnya matahari berpengaruh terhadap
intensitas cahaya matahari pada wilayah yang berkaitan langsung
dengan tempat lintasan peredaran semu matahari tersebut. Salah
satu akibat dari peredaran semu tahunan matahari adalah terjadinya
perubahan gerakan angin yang dikenal dengan nama angin muson.
Angin muson adalah angin yang bertiup setiap 6 bulan sekali dan
selalu berganti arah. Di Indonesia terdapat dua angin muson, yaitu:
a. Angin muson barat
Bertiup setiap bulan Oktober sampai Maret, saat
kedudukan semu matahari di belahan bumi selatan. Hal ini
menyebabkan tekanan udara maksimum di Asia dan tekanan
udara minimum di Australia, maka bertiuplah angin dari Asia
ke Australia (tekanan tinggi ke rendah). Karena angin melalui
Samudra Hindia, maka angin tersebut mengandung uap air yang
banyak, sehingga pada bulan Oktober sampai Maret di Indonesia
terjadi musim penghujan.
b. Angin muson timur
Bertiup mulai bulan April sampai September, di mana
kedudukan semu matahari di belahan bumi utara. Akibatnya
tekanan udara di Asia rendah dan tekanan udara di Australia
tinggi, sehingga angin bertiup dari Australia ke Asia. Angin
tersebut melewati gurun yang luas di Australia, sehingga bersifat
kering. Oleh karena itu Indonesia saat itu mengalami musim
kemarau.

PENGARUH LETAK ASTRONOMI INDONESIA

Jika kalian mengamati dengan saksama peta ataupun globe,
akan kalian temukan adanya garis lintang dan garis bujur. Garis
lintang merupakan garis-garis yang sejajar dengan khatulistiwa
yang melintang mengitari bumi sampai daerah kutub. Adapun garis
bujur merupakan garis tegak yang berjajar menghubungkan wilayah
kutub utara dan selatan. Garis-garis tersebut merupakan garis
khayal yang dipergunakan sebagai pedoman untuk menunjukkan
posisi suatu daerah di muka bumi.
Letak astronomi adalah letak suatu tempat berdasarkan garis
lintang dan garis bujurnya. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia
berada di antara 6o LU – 11o LS dan antara 95o BT –
141o BT.
Wilayah Indonesia paling utara adalah Pulau Weh di
Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di 6o LU. Wilayah Indonesia
paling selatan adalah Pulau Roti di Nusa Tenggara Timur
yang berada pada 11o LS. Wilayah Indonesia paling barat adalah
di ujung utara Pulau Sumatra yang berada pada 95o BT. Adapun
wilayah Indonesia paling timur di Kota Merauke yang berada pada
141o BT.
1. Garis Lintang
Garis lintang merupakan garis khayal pada peta atau globe
yang sejajar dengan khatulistiwa. Garis khatulistiwa membelah bumi
menjadi dua belahan utara dan belahan selatan. Garis khatulistiwa
atau garis equator atau garis lini adalah garis lintang 0o. Garis lintang
dipergunakan untuk membagi wilayah iklim di bumi yang disebut
iklim matahari.
Berdasarkan letak lintangnya, wilayah Indonesia berada di
antara 6o LU – 11o LS. Hal ini menyebabkan Indonesia beriklim
tropis dengan ciri-ciri:
a. memiliki curah hujan yang tinggi,
b. memiliki hujan hutan tropis yang luas dan memiliki nilai
ekonomis yang tinggi,
c. menerima penyinaran matahari sepanjang tahun,
d. banyak terjadi penguapan sehingga kelembapan udara cukup
tinggi.
2. Garis Bujur
Garis bujur adalah garis khayal pada peta atau globe yang
menghubungkan kutub utara dan selatan bumi. Bumi dibagi menjadi
180o garis bujur timur (BT) dan 180o garis bujur barat (BB).
Perhitungan garis bujur 0o dimulai dari Kota Greenwich dekat Kota
London. Garis bujur dipergunakan untuk menentukan waktu suatu
daerah.
Letak astronomi Indonesia yang berada di antara 95o BT –
141o BT menjadikan Indonesia memiliki tiga daerah waktu, yaitu:
a. Daerah Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), meliputi seluruh
Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Waktu Indonesia
Barat memiliki selisih waktu 7 jam lebih awal dari GMT
(Greenwich Mean Time).
b. Daerah Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), meliputi Bali,
Nusa Tengara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur , Pulau
Sulawesi, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Waktu Indonesia
Tengah memiliki selisih waktu 8 jam lebih awal dari GMT.
c. Daerah Waktu Indonesia bagian Timur (WIT), meliputi
Kepulauan Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil sekitarnya.
Waktu Indonesia bagian timur memiliki selisih waktu 9 jam
lebih awal dari GMT.

PENGARUH LETAK GEOGRAFIS INDONESIA TERHADAP KONDISI ALAM DAN PENDUDUK

Pengertian letak geografis adalah letak suatu negara dilihat
dari kenyataan di permukaan bumi. Menurut letak geografisnya
Indonesia terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia,
dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra
Pasifik.
Letak Indonesia yang diapit dua benua dan berada di antara
dua samudra berpengaruh besar terhadap keadaan alam maupun
kehidupan penduduk.
1. Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan Alam
Indonesia merupakan negara kepulauan yang merupakan
pertemuan dua samudra besar (Samudra Pasifik dan Samudra
Hindia) dan diapit daratan luas (Benua Asia dan Australia). Hal itu
berpengaruh terhadap kondisi alam.
a. Wilayah Indonesia beriklim laut, sebab merupakan negara
kepulauan, sehingga banyak memperoleh pengaruh angin laut
yang mendatangkan banyak hujan.
b. Indonesia memiliki iklim musim, yaitu iklim yang dipengaruhi
oleh angin muson yang berembus setiap 6 bulan sekali berganti
arah. Hal ini menyebabkan musim kemarau dan musim hujan
di Indonesia.
2. Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan
Penduduk
Karena Indonesia terletak pada posisi silang (cross position)
antara dua benua dan dua samudra, maka pengaruhnya bagi
kehidupan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing, yakni
dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama.
b. Indonesia terletak di antara negara-negara berkembang,
sehingga memiliki banyak mitra kerja sama.
c. Lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Indonesia cukup
ramai, sehingga menunjang perdagangan di Indonesia dan
menambah sumber devisa negara.