Sabtu, 21 November 2009

Komposisi (Susunan) Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Komposisi (susunan) penduduk berdasarkan pendidikan
adalah susunan penduduk (pengelompokkan penduduk) didasarkan
pada jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Jenjang pendidikan
menurut Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003 sistem
pendidikan nasional terdiri atas pendidikan dasar (SD/MI, SMP/
MTs), pendidikan menengah (SMA/MA), pendidikan tinggi (sekolah
tinggi, universitas)
a. Jenjang pendidikan dasar
Jenjang pendidikan dasar meliputi SD atau MI dan SMP atau
MTs atau bentuk-bentuk jenjang sekolah yang sederajat lainnya.
Pendidikan SD dan MI bertujuan memberi bekal kemampuan
dasar untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP atau MTs.
Adapun pendidikan SMP atau MTs bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, siswa agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi serta memiliki hubungan interaksi dengan
lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar.
b. Jenjang pendidikan menengah
Jenjang pendidikan menengah meliputi SMA, MA, SMK, atau
sekolah yang sederajat lainnya. Pendidikan menengah bertujuan
memberikan pengajaran yang bersifat teoritis dan praktis serta
mengutamakan perluasan wawasan ilmu pengetahuan dan peningkatan
keterampilan siswa agar dapat mengembangkan potensi diri
atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau langsung bekerja.
c. Pendidikan tinggi
Jenjang pendidikan tinggi meliputi program diploma, sarjana,
magister, spesialis, dan doktor. Adapun bentuk pendidikan/perguruan
tinggi antara lain akademi, sekolah tinggi, universitas, dan
institut.
Pendidikan di perguruan tinggi terbagi menjadi:
1) Pendidikan akademik, yang diarahkan pada penguasaan,
pengembangan, peningkatan mutu, serta perluasan wawasan
ilmu pengetahuan.
Sumber: Ensiklopedi Umum
untuk Pelajar, 2005
Gambar 2.4 Jumlah
penduduk Indonesia yang
memiliki jenjang pendidikan
SD berdasarkan hasil
penelitian BPS tahun 2000
adalah 27,5% di kota) dan
36,2 (di desa).

2) Pendidikan profesional, yang diarahkan pada penerapan
keahlian tertentu dan mengutamakan peningkatan kemampuan
penerapan ilmu pengetahuan.
Tabel: Komposisi penduduk desa dan kota berdasarkan jenjang
pendidikannya.

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2000
1. Tidak sekolah 5,3 13,0
2. Belum tamat SD 16,9 30
3. SD 27,5 36,2
4. SMP 19,2 12,3
5. SMP+ 50,4 21,0
6. Sekolah menengah 52,2 7,7
7. Diploma I/II 0,9 0,4
8. Diploma III/sarjana muda 1,6 0,2
9. Diploma IV/S1/S2/S3 3,4 0,4

KOMPOSISI (SUSUNAN) PENDUDUK

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk atas
dasar kriteria tertentu dan untuk tujuan tertentu pula. Misalnya
pengelompokan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin,
tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Mengetahui komposisi penduduk
diperlukan untuk merencanakan kegiatan pada masa mendatang.
Adapun komposisi penduduk suatu negara diklasifikasikan menurut:
1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis
Kelamin
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat
dibentuk piramida penduduk, yaitu grafik balok yang dibuat secara
horizontal untuk membandingkan penduduk laki-laki dan perempuan.
Macam-macam bentuk piramida penduduk:
a. Piramida penduduk muda (Expansive)
Bentuk piramida penduduk muda bagian atasnya besar, makin
ke puncak makin sempit, sehingga berbentuk limas. Hal itu
menggambarkan bahwa penduduk dalam keadaan tumbuh, jumlah
kelahiran lebih besar daripada jumlah kematian.
b. Piramida penduduk tetap (Stationer)
Bentuk piramida ini di bagian atas dan bawahnya hampir
sama, sehingga berbentuk seperti granat. Hal itu menggambarkan
bahwa angka kelahiran seimbang dengan angka kematian. Jumlah
penduduk usia muda hampir sama dengan usia dewasa.
c. Piramida penduduk tua (Constrictive)
Bentuk piramida ini di bagian bawah kecil dan di bagian atas
besar, sehingga berbentuk seperti batu nisan. Hal itu menggambarkan
penurunan angka kelahiran lebih pesat dari angka kematian,
sehingga jumlah penduduk usia muda lebih sedikit dibandingkan
dengan usia dewasa. Jumlah penduduk mengalami penurunan.
Data tentang komposisi penduduk menurut umur dan jenis
kelamin dapat dipergunakan untuk:
a. Angka beban ketergantungan (dependency ratio)
Angka beban ketergantungan adalah angka yang menyatakan
perbandingan antara banyaknya orang yang termasuk usia tidak
produktif dengan banyaknya orang yang termasuk usia produktif.
Orang yang termasuk golongan usia tidak produktif adalah:
1) antara usia 0 sampai 14 tahun,
2) usia 65 tahun ke atas.
Adapun yang termasuk usia produktif adalah usia antara 15
sampai 64 tahun.
Rumus untuk menghitung angka beban ketergantungan adalah:
Jumlah penduduk usia nonproduktif:
Jumlah penduduk usia nonproduktif 100
Jumlah penduduk usia produktif
��
Besar kecilnya angka beban ketergantungan memengaruhi
tingkat kesejahteraan penduduk. Makin tinggi angka beban
ketergantungannya, maka makin rendah tingkat kesejahteraan
penduduk, dan sebaliknya.
b. Angka usia harapan hidup (life expectancy)
Angka usia harapan hidup adalah rata-rata usia penduduk
yang diperhitungkan sejak kelahiran.Usia harapan hidup berkaitan
erat dengan angka kematian bayi. Makin tinggi angka kematian
bayi, makin rendah usia harapan hidup, dan sebaliknya. Angka
usia harapan hidup sangat terkait dengan tingkat kesehatan
masyarakat.
c. Rasio jenis kelamin (sex ratio)
Rasio jenis kelamin (sex ratio) adalah perbandingan
banyaknya penduduk laki-laki dan banyaknya penduduk perempuan
pada suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.
Rumus menghitung rasio jenis kelamin adalah

Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk adalah perbandingan jumlah penduduk
dengan luas lahan.
Macam-macam kepadatan penduduk antara lain:
a. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara
jumlah penduduk dengan luas tanah yang dapat diolah.
b. Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara
jumlah penduduk dengan luas wilayah tetapi menurut kapasitas
produksinya.
c. Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan jumlah
penduduk dengan luas seluruh wilayah dalam setiap km2.
Rumus:
Kepadatan Penduduk Aritmatika:
2
Jumlah penduduk (jiwa)
Luas seluruh wialyah (km )
d. Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara
penduduk yang mempunyai aktivitas di sektor pertanian dengan
luas tanah (daerah) yang dapat diolah untuk pertanian.
Rumus
Kepadatan Penduduk Agraris:
2
Jumlah penduduk yang bertani (jiwa)
Luas seluruh lahan pertanian (km )

Migrasi atau Perpindahan Penduduk

Pernahkah kamu memerhatikan fenomena yang terjadi di
Indonesia atau bahkan di sekitarmu sendiri saat menjelang lebaran?
Ya, di Indonesia akan kita jumpai fenomena “Mudik Lebaran”. Di
mana banyak orang yang meninggalkan kota-kota besar untuk
pulang ke kampung halamannya. Mereka meninggalkan
pekerjaannya sejenak di kota besar dan rela melakukan perjalanan
jauh yang menghabiskan banyak biaya guna merayakan lebaran di
kampung halaman bersama keluarganya. Setelah lebaran selesai,
mereka pun akan kembali ke kota di mana dia bekerja (arus balik).
Lalu apa kaitan antara fenomena mudik dengan materi perpindahan
penduduk? Ya, mudik adalah contoh dari migrasi atau perpindahan
penduduk. Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian materi berikut.
Migrasi atau mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk
dari suatu tempat ke tempat lain.

Adapun pola mobilitas penduduk meliputi:
a. Mobilitas penduduk permanen (migrasi), yang meliputi:
1) Migrasi internasional (migrasi antarnegara) yang
terdiri dari imigrasi, emigrasi, dan remigrasi.
a) Imigrasi adalah masuknya penduduk asing yang
menetap ke dalam sebuah negara.
b) Emigrasi adalah pindahnya penduduk keluar negeri
untuk menetap di sana.
c) Remigrasi adalah pemulangan kembali penduduk asing
ke negara asalnya.
2) Migrasi nasional (migrasi lokal), terdiri dari:
a) Urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke
kota.
b) Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari pulau
yang padat penduduknya ke pulau yang masih jarang
penduduknya.
c) Ruralisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke
desa untuk menetap di desa.
d) Evakuasi, yaitu perpindahan penduduk untuk
menghindari bahaya.
b. Mobilitas penduduk nonpermanen (sirkuler), yang meliputi:
1) Mobilitas ulang alik atau mobiltas harian, yakni
penduduk yang karena pekerjaannya harus melakukan
perjalanan dari tempat tinggalnya ke tempat bekerjanya di
lain daerah.
2) Mobilitas bermusim, yakni penduduk yang karena
pekerjaan atau keperluannya untuk sementara waktu
menetap di suatu daerah dan dalam jangka waktu tertentu
kembali ke tempat tinggalnya.

KUANTITAS PENDUDUK INDONESIA

Penduduk Indonesia tersebar di berbagai provinsi yang ada
di Indonesia. Jumlah penduduk setiap provinsi berbeda-beda. Bila
kita jumlahkan secara keseluruhan itulah yang disebut dengan
“kuantitas penduduk Indonesia”.
1. Pengertian Penduduk Indonesia
Jika kalian mengunjungi kota-kota besar di Indonesia terutama
di pusat-pusat perdagangan, kalian akan menjumpai berbagai ragam
orang dengan berbagai ras, maupun suku bangsa. Apakah semua
termasuk penduduk Indonesia? Tentu saja tidak, sebab kemungkinan
mereka adalah para wisatawan mancanegara atau orangorang
asing yang sedang berkunjung ke Indonesia. Lalu siapakah
yang dikategorikan sebagai penduduk Indonesia itu?
Penduduk Indonesia adalah mereka yang tinggal di Indonesia
pada saat dilakukan sensus dalam kurun waktu minimal 6 bulan.
2. Sumber Data Penduduk
Untuk mengetahui bagaimanakah keadaan penduduk
berkaitan dengan kuantitas penduduk di suatu negara diperlukan
data yang lengkap dengan melakukan:
a. Sensus penduduk (cacah jiwa), yaitu pencatatan penduduk
di suatu daerah/negara pada kurun waktu tertentu. Sensus penduduk
biasanya dilakukan tiap 10 tahun sekali (setiap dekade).
b. Survei penduduk, yaitu pencatatan penduduk di daerah yang
terbatas dan mengenai hal tertentu.
c. Registrasi penduduk, yaitu pencatatan data penduduk yang
dilakukan secara terus-menerus di kelurahan. Misal: pencatatan
peristiwa kelahiran, kematian, dan kejadian penting yang
mengubah status sipil seseorang sejak lahir sampai mati.
3. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu pertumbuhan penduduk alami, pertumbuhan penduduk migrasi,
dan pertumbuhan penduduk total.
a. Pertumbuhan penduduk alami (Natural Population Increase),
adalah pertumbuhan penduduk yang diperoleh dari
selisih jumlah kelahiran dengan jumlah kematian.
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:
T = L – M
Serasi
(Serba-serbi Sosial)
Sensus di Indonesia
pertama kali dilaksanakan
pada masa pemerintahan
Thomas
Stanford Raffles pada
tahun 1815. Kemudian
sensus pertama setelah
Indonesia merdeka
dilaksanakan pada
31 Oktober 1961 dan
diperingati sebagai hari
sensus Indonesia.
Keterangan
T = jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
L = jumlah kelahiran per tahun
M = jumlah kematian per tahun
b. Pertumbuhan penduduk migrasi adalah pertumbuhan
penduduk yang diperoleh dari selisih jumlah migrasi masuk
(imigrasi) dan jumlah migrasi keluar (emigrasi).
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:
T = I – E
Keterangan
T = jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
I = jumlah migrasi masuk per tahun
E = jumlah migrasi keluar per tahun
c. Pertumbuhan penduduk total (Total Population Growth)
adalah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah
kelahiran dengan jumlah kematian ditambah dengan selisih
jumlah imigrasi dengan jumlah emigrasi.
Hal ini dapat dihitung dengan rumus:
T = (L – M) + ( I – E)
Keterangan:
T = Pertumbuhan penduduk per tahun
L = Jumlah kelahiran per tahun
M = Jumlah kematian per tahun
I = Jumlah imigran (penduduk yang masuk ke suatu
negara/wilayah untuk menetap) per tahun
E = Jumlah emigran (penduduk yang meninggalkan/
pindah ke wilayah/negara lain) per tahun

Keanekaragaman Suku Bangsa

Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri atas beberapa
suku bangsa (etnis) yang masing-masing memiliki bahasa dan adat
istiadat serta budaya yang berbeda. Menurut hasil penelitian Hilderd
Geertz, Indonesia terdiri dari 300 etnis yang berbeda-beda. Adapun
menurut penelitian MA Jaspan, masyarakat Indonesia terdiri atas
366 etnis dengan kriteria pada bahasa daerah, kebudayaan serta
susunan masyarakatnya. Lain lagi menurut penelitian Van
Vollenhoven yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia
terbagi menjadi 19 lingkaran hukum adat dengan berbagai suku
bangsa (etnis) yang ada di dalamnya.
Lalu apakah yang dimaksud etnik itu? Apa pula bedanya
dengan ras?
Robertson pada tahun 1977 mengemukakan pendapatnya
bahwa kelompok etnik adalah sejumlah besar orang yang memandang
diri dan dipandang oleh kelompok lain memiliki kesatuan
budaya yang berbeda. Hal ini terjadi sebagai akibat dari sifat-sifat
budaya bersama dan interaksi timbal balik yang terus menerus.
Jika istilah ras berkaitan dengan ciri-ciri fisik tubuh, etnisitas
lebih berkaitan dengan karakteristik budaya suatu kelompok tertentu.
Karakterisrik budaya ini dibentuk dan dihasilkan oleh perbedaan
bahasa, agama, suku bangsa, kedaerahan, dan tempat lahir.
Hal yang membedakan antara etnis yang satu dengan yang
lainnya adalah perbedaan bahasa (bahasa daerah) dan adat istiadat.
Perbedaan adat istiadat menunjukkan perbedaan kebudayaan yang
nampak dari pola perilaku atau gaya hidup. Pola perilaku orang
Batak yang suka bicara terus terang, sehingga terkesan tegas dan
keras sangat berbeda dengan pola perilaku orang Jawa Tengah
(khususnya Solo dan Jogja) yang suka berbicara hati-hati penuh
dengan sindiran secara halus sehingga berkesan kurang tegas.
Secara rinci dapat kita uraikan tentang perbedaan antara etnis
yang satu dan lainya, dalam hal:
a. Perbedaan bahasa daerah.
b. Perbedaan tata susunan kekerabatan, misalnya ada yang
menganut patrilineal, matriliniel, dan parental.
c. Perbedaan adat istiadat, misalnya dalam upacara perkawinan,
upacara adat, hukum adat, dan lain-lain.
d. Perbedaan sistem mata pencaharian.
e. Perbedaan teknologi, misalnya bentuk arsitektur rumah/
bangunan adat, peralatan kerja tradisional.
f. Perbedaan kesenian daerah.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
bahasa dan adat istiadat adalah:
a. Keadaan dan letak geografis yang berbeda.
b. Pemukiman penduduk yang terpisah-pisah di pulau-pulau
terpencil yang menghambat kontak dengan daerah lain.
c. Latar belakang sejarah yang berbeda.
d. Lingkaran hukum adat dan kemasyarakatan yang berlainan.

KONDISI PENDUDUK INDONESIA

Indonesia merupakan negara kesatuan yang masyarakatnya
majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang menyebar
dari Sabang (ujung Sumatra Utara) sampai Merauke (ujung Papua).
1. Pembagian Ras Penduduk Indonesia
Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, masyarakat Indonesia dapat
dibedakan menjadi 4 (empat) kelompok ras, yaitu:
a. Kelompok ras Papua Melanezoid, terdapat di Papua/
Irian, Pulau Aru, Pulau Kai.
b. Kelompok ras Negroid, antara lain orang Semang di
semenanjung Malaka, orang Mikopsi di Kepulauan
Andaman.
c. Kelompok ras Weddoid, antara lain orang Sakai di Siak
Riau, orang Kubu di Sumatra Selatan dan Jambi, orang
Tomuna di Pulau Muna, orang Enggano di Pulau Enggano,
dan orang Mentawai di Kepulauan Mentawai.
d. Kelompok ras Melayu Mongoloid, yang dibedakan
menjadi 2(dua) golongan.
1) Ras Proto Melayu (Melayu Tua) antara lain Suku
Batak, Suku Toraja, Suku Dayak.
2) Ras Deutro Melayu (Melayu Muda) antara lain Suku
Bugis, Madura, Jawa, Bali.
Di samping kelompok ras di atas, masyarakat Indonesia juga
terdiri dari kelompok warga keturunan Cina (ras Mongoloid),
warga keturunan Arab, Pakistan, India, ras Kaukasoid, dan
sebagainya yang hidup berdampingan membaur menjadi satu warga
negara Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak mengenal
superioritas suatu ras dan tidak menganut paham rasialisme.
Salah satu perekat suku bangsa yang berbeda-beda di Indonesia
adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang
termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.